Bahas Promosi Kota Solo, Pandiva Media Network Jumpai Direktur Taman Satwa Taru Jurug

CONCERN pada pengembangan potensi daerah, Pandiva Media Network (PMN) berjumpa dengan Direktur baru Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) atau juga biasa disebut Kebun Binatang Jurug, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, beberapa waktu lalu.

General Marketing PMN, Albicia Hamzah, menyampaikan visi jejaring media yang dapat menjadi daya dukung penting pengembangan wisata Kota Solo, terutama Taman Satwa Taru Jurug.

Selain membahas prospek dan strategi promosi Kota Solo dari sektor pariwisata, pembicaraan kemudian berlanjut pada revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug. Sang Direktur memang berinisiatif untuk lebih masif mengembangkan destinasi kebanggaan warga Kota Solo yang dibangun pada 1878 tersebut.

“Bukan hanya bersejarah, Taman Satwa Taru Jurug memberi arti bagi Kota Solo sebagai kelangenan. Sebagian warga Solo merasa ada yang kurang bila tidak mengunjunginya pada musim liburan,” ujar Bimo, seperti diberitakan Surakarta Daily, salah satu brand Pandiva Media Network.

Ia bertekad hendak merevitalisasi Taman Satwa Taru Jurug menjadi salah satu ikon Kota Solo, bukan sekadar tujuan wisata yang menawarkan berbagai spesies hewan dan tumbuhan.

“Taman Satwa Taru Jurug dapat manunggal dengan citra Kota Solo sebagai Kota Budaya. Artinya, kesan budaya Jawa harus tampak kuat dalam pengelolaan. Lebih jauh, bukan hanya sebagai kebun binatang, Taman Satwa Taru Jurug dapat menjadi warisan budaya penting warga Solo,” terang laki-laki kelahiran Bandung, 3 Oktober 1969 tersebut.

Bimo juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor, sponsor, atau CSR untuk bersama-sama bermitra, mengembangkan dan mem-branding Taman Satwa Taru Jurug.

“Sekarang ini, rata-rata pengunjung 700-1500 per hari. Banyak spot, tempat, atau wahana yang belum tergarap dengan optimal , serta cenderung mangkrak seperti taman rekreasi, PKL, danau, akuarium air tawar, dan wahana edukasi,” ungkapnya.

Pentingnya Inovasi

Albicia Hamzah, berurun rembuk, agenda revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug adalah terobosan genius, karena menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, penguatan karakter lokal harus terus diperkuat.

“Kota Solo telah mendunia. Konsekuensinya, karena mata dunia mengamati gerak dinamika Kota Solo, pembenahan destinasi wisata harus menjadi prioritas utama. Baik buruk perilaku warga Solo terhadap pengunjung menjadi penentu eksis atau tidaknya perekonomian domestik,” ucap Albi.

Ia mengetengahkan identitas khusus yang sebaiknya dimiliki Taman Satwa Taru Jurug adalah destinasi inspiratif. Taman Satwa Taru Jurug bukan lagi hanya destinasi, tapi mampu menstimulasi setiap pengunjung untuk menemukan semangat baru dalam hidupnya.

“Derivasi destinasi inspiratif ini tidak perlu berbiaya besar, asalkan merepresentasi karakter Surakartan. Mulai dari tukang parkir yang bersikap ramah hingga penataan lokasi yang membangkitkan kenangan sejarah hebat Wangsa Mataram,” pungkasnya.

Scroll to Top